Selasa, 02 Oktober 2018

Review E-Book A Little White Lie

Judul : A Little White Lie
Penulis : Titish AK
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 272 hlm
Cetakan Kedelapan, Februari 2011
Dibaca via : @ijakarta.id
Ocha benci Adit! Meskipun cowok itu idola cewek satu sekolah, bagi Ocha, Adit nggak lebih dari sekadar perusak image dan pembawa sial. Sejak kenal Adit, Ocha berevolusi jadi cewek cengeng, malu-maluin, suka bohong, dan doyan melet. Pokoknya Ocha benci Adit. Titik.

Tuhan seperti memberikan jalan untuk membalas dendam ketika tanpa sengaja Ocha menemukan apa yang bakal dianggap harta karun oleh cewek-cewek di sekolahnya: nomor handphone Adit, yang katanya susaaaah banget dicari tahu itu.

Awalnya Ocha berencana menjual informasi nomor handphone Adit ke teman-temannya. Tapi karena nggak tega, akhirnya Ocha cuma ngisengin Adit lewat SMS dengan nama samaran Ayu.

Tapi bukannya sukses balas dendam, Ocha malah tambah pusing. Soalnya kebohongan kecil yang dia ciptakan itu menimbulkan masalah baru. Adit ternyata naksir Ayu!

Untuk semua pecinta teenlit dan kisah romansa yang manis dengan tingkat kadar kemanisan yang nggak berlebihan, yuk merapat. Karena novel yang satu ini pas banget manisnya.

Kisah bermula karena Ocha dendam pada Adit yang tidak meminta maaf padanya. Yah, siapapun akan marah jika sudah kena timpuk bola basket, malah masih kena ceramah, dan pelakunya nggak minta maaf pula. 🔥🔥🔥
Ocha mendapat ide brilian saat tidak sengaja mengetahui nomor ponsel milik Adit yang katanya sulit banget didapat. Awalnya ia bahkan berniat menjual nomor ponsel Adit, sampai tiba-tiba ia mendapat ide untuk mengerjai Adit dengan menggunakan nama samaran sebagai Ayu. Tapi yang tak disangka, Adit justru naksir Ayu. Nah loh, apa yang bakal Ocha lakukan yah?

Membaca kisah ini tuh manis menggelitik gitu. Manis kisah romansa di dalamnya, menggelitik karena merasa dibawa kembali ke masa itu. Masa di mana modus salah kirim pesan atau telepon untuk berkenalan dengan pemilik telepon. Ayo angkatan kelahiran 80 dan 90-an, pernah ngelakuin hal itu? 😂

Kisah ini masih cocok dibaca hingga saat ini, kecuali di bagian pesan yang dikirim satu sama lain yang menggunakan tren bahasa saat itu dan penulisannya yang singkat (kalau sekarang lihatnya, zaman alay 😂).

Alur bergerak maju, jalan cerita terasa wajar, tidak terburu-buru.
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, yakni Ocha.
Ide cerita bisa terbilang fresh pada era-nya, mengingat tahun penerbitan awal kisah ini.
Setting tempat dan setting waktu dijelaskan dengan cukup baik.
Cara penulisannya juga baik dan bahasa yang digunakan cukup ringan dan santai.

Novel ini direkomendasikan untuk remaja, maupun yang pernah remaja. Mari kembali mengenang masa-masa saat duduk di bangku sekolah dahulu.

A Little White Lie, selesai!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar